Download

“Ironi Rasisme, Renungan 74 thn Kemerdekaan Indonesia.”

LENTERA KOLOM — Situasi terakhir di Asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang yang berbuntut panjang hingga demo besar-besaran di Manokwari, Sorong, Jayapura dan Makassar, dan Fakfak. Beberapa hari ini, seakan memaksakan saya untuk membuka kembali buku lama tentang “Risalah Sidang BPUPKI”, terbitan Sekneg RI, 1995.

Lembaga BPUPKI dan PPKI, yang dipimpin Dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat tersebut, sebelum Proklamasi, telah membahas berbagai hal penting untuk sebuah “nation state” Indonesia yang akan dimerdekakan nanti. Salah satu fasal yang dibahas dan berdebat panjang adalah soal wilayah, terjadi perbedaan antara Bung Hatta dan kubu Ir. Soekrano, Mr.Moh.Yamin, KH.Abikusno Tjokrosuyoso, Mr. Soepomo, dkk tentang teritorial Indonesia.

Hatta menghendaki Indonesia adalah bangsa Melayu- Polinesia dimana Maluku/Halmahera adalah batas antropologisnya. Sedangkan Soekarno dkk membantah, bahwa Indonesia kelak termasuk Irian Barat karena bekas daulat kesultanan Tidore. Hatta membedakan Melanesia dan Polinesia berdasarkan garis Wallacea (Wallace Line). Namun dalam perdebatan di BPUPKI itu, Irian Barat menjadi bagian dari “nation state” Indonesia karena merujuk Traktat London,1814, sebagai dasar teritorial eks Nederlandsch Indische dan Konferensi Meja Bundar, Den Haag, Desember 1949, pun mengakui hal yang sama.

Walaupun kita tahu Belanda kemudian ingkar melaksanakan isi perjanjian KMB dan berbuntut Soekarno mencanangkan Trikora 1961 untuk merebut Irian Barat kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Soekarno pun menetapkan Sultan Tidore, Zainal Abidin Syah, sebagai Gubernur Irian Barat dan Tidore ditetapkan sebagai ibukota perjuangan Provinsi Irian Barat. Lalu disusunlah Operasi Mandala, dipimpin MayJen. Soeharto, untuk operasi militer terpadu merebut Irian Barat.

Kampung saya, Maluku Utara, khususnya Halmahera pun dijadikan basis terdepan operasi militer ABRI terpadu. Sebutlah nama Komodor Laut Yos Sudarso, Kapten RPKAD Benny Murdani, Mayor Mobrig Komandan Resimen Pelopor Anton Soedjarwo, Lettu RPKAD Dolf Latumahina, Letda Infanteri Faisal Tandjung, Komodor Leo Wattimena, adalah sebagian kecil dari nama-nama yang terlibat dalam Operasi Mandala tersebut. Dan kita tahu, Irian Barat pun akhirnya menjadi bagian dari NKRI setelah desakan John F.Kennedy melalui New York Agreement, 15 Agustus 1962, dibawah PBB. UNTEA (United Nation Temporary Executive Authority) pun dibentuk oleh Dewan Keamanan untuk penentuan nasib sendiri Irian.

Lalu benerapa waktu lalu, sebuah riset akademis terbaru dari Lembaga Eijkman, Bogor (Prof.Herawaty dan Prof.Sangkot Marzuki), meneliti DNA manusia nusantara. Ternyata menemukan bahwa penduduk awal nusantara adalah Papua dan Alor sebagai pemilik DNA tertua. Berdasarkan teori “Out of Africa” 1 hingga 4 yang membentuk migrasi umat manusia dimuka bumi dan nusantara. Terhitung sejak banjir bandang bahtera Nabi Nuh AS sebagai penyebab migrasi awal. Teori ini juga didukung riset ahli paleo- antropologi dan arkeolog Australia Prof. Peter Bellwood yang menulis “First Migration” dimana migrasi awal penduduk Austronesia adalah Papua. Dua teori ini seakan mematahkan argumentasi Hatta pada masa-masa awal sebelum proklamasi bahwa Melanesia berbeda dengan Melayu Polinesia yang mendiami Indonesia, Malaysia, hingga Filipina. Namun saat-saat kita tengah merayakan 74 thn hasil proklamasi yang berbasis hasil-hasil sidang BUPKI itu, ironi masih terjadi dengan rasisme atas masyarakat Papua, walau merekalah sebenarnya pemilik awal yang sah dari bumi nusantara. Semoga peristiwa tersebut menjadi kilas balik, agar kita tidak lupa akan diri kita, tidak melakukan dosa kolektif karena memilah-milah anak bangsa dengan tindakan dan sebutan rasisme, karena hal itu adalah menodai perjuangan dan keihlasan para pendahulu, dr.KRT Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Soekarno, Mr. M.Yamin dkk.

Walau kita sama-sama sadar bahwa sebagai nation state, Indonesia memang belum ”taken for granted.” Justeru ditangan kita-kitalah, generasi kini, pekerjaan tersebut harus dilanjutkan, harus disempurnakan. Bukan sebaliknya, ditangan kita justeru bangsa ini terpuruk dalam dis-integrasi karena rasisme. Padahal Arysio Santos, seorang fisikawan nuklir Brasil, menulis tentang “Atlantic, The Lost Continent Finally Found” menyatakan bahwa bukti peradaban besar tentang Antlantis adalah terletak di nusantara, ia menyebut “the sundaland” sebagai kawasan peradaban awal tersebut. Bukan di samudera Atlantik dan Eropa yang kita kenal sekarang. Prof. Arysio Santos pun tergerak meneliti tentang ungkapan Plato mengenai Moloku (Maluku), daerah asal rempah-rempah dan negeri para raja itu mitos ataukah fakta, yang diungkapkan Plato 450 tahun sebelum Isa Almasih dari Nazareth lahir.

Save Papua is means, Save Indonesia, Save Bhinneka Tunggal Ika.

Penulis: Syaiful Bahri Ruray

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download