Download

Prostitusi dan Hegemoni Tubuh Perempuan di Era Modern

KOLOM.LENTERA.CO.ID — Prostitusi merupakan sebuah sebutan yang tak asing lagi bagi seluruh umat manusia. Bisnis layanan seks (prostitusi) telah membentuk pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan berperan sebagai produsen dan laki-laki berperan sebagai konsumennya.

Dengan demikian, tak heran bahwa prostitusi dalam kegiatannya telah menjadikan tubuh perempuan sebagai objek atau sasaran yang di perdagangkan untuk pemenuhan hasrat seksual bagi laki-laki. Alhasil,tubuh perempuan telah di hegemoni melalui praktek prostitusi.

Sekilas tentang Prostitusi dalam sejarah

Banyak anggapan yang mengungkapkan bahwa sejarah prostitusi seumuran dengan kehadiran umat manusia di muka bumi. Fredrich Engels dalam bukunya “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan pribadi dan Negara”, telah membantah anggapan tersebut. Bagi Engels, prostitusi muncul seiring dengan penaklukan seks/gender perempuan oleh laki-laki dan munculnya kepemilikan pribadi. Hal itu terjadi seiring dengan runtuhnya masyarakat komunal primitif dan adanya cikal bakal lahirnya masyarakat berkelas(perbudakan).

Baca juga Prostitusi, Hak Asasi, dan Standar Moral Kita

Dalam fase itu, muncul keluarga monogamy, yang menempatkan supremasi pada laki-laki dan tujuannya memproduksi anak ayah (paternity). Paternity ini penting dan memastikan kekayaan sang ayah yang terwariskan secara alami pada anak ayah itu.

Dalam keluarga monogamy itu, kemerdekaan seks (hak atas tubuh) perempuan mulai hilang dan laki-laki tetap punya kemerdekaan untuk memiliki budak perempuan guna dijadikan gundik atau istri simpanan. Maka disitulah kekuasaan laki-laki atas perempuan mulai berlangsung hingga kini.

Prostitusi di Era Modern

Modernitas, yang ditandai dengan perkembangan alat teknologi dalam kenyataannya telah menyeret manusia secara keseluruhan untuk beradaptasi dengan dinamikanya. Di era ini, kapitalisme mengambil sebuah peran penting untuk melakukan proses produksi dari berbagai varian produk yang memodifikasi tubuh perempuan seindah mungkin.

Baca juga: Kecantikan di Era Modern dan Penindasan Perempuan

Disini, jelas nampak bahwa maraknya agenda prostitusi dalam suatu negara merupakan sebuah manifestasi dari modernitas yang tidak bisa untuk dihindari. Perkembangan alat teknologi dan informasi ini, telah membuka lebar pintu masuk untuk menjadikan perempuan sebagai korban intimidasi, subordinasi dan eksploitasi.

Artinya bahwa perkembangan ini dapat memudahkan proses transaksional dalam bisnis layanan seks (prostitusi) dan kemudahan dalam proses ini dapat menimbulkan proses diskriminasi perempuan yang kian banyak.

Anthony Giddens dalam Bukunya George Ritzer, berjudul Teori Sosiologi “dari sosiologi klasik sampai perkembangan terakhir postmodern” berpendapat bahwa modernitas adalah dunia yang tak terkendalikan. Giddens melihat beberapa segi lembaga dasar dalam modernitas: yang pertama ialah kapitalisme yang dicirikan secara abstrak oleh produksi komoditas, kepemilikan pribadi atas modal serta buruh upahan yang tidak punya harta benda. Yang kedua ialah industrialism, yang melibatkan sumber tenaga kerja tidak berjiwa.

Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa kehadiran modernitas adalah sebuah ekpresi penjajahan gaya baru yang di lakukan untuk menambah kesuburan dari proses ekspansi ,akumulasi, dan eksploitasi dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu dampak yang marak terjadi dari perkembangan ini adalah berkembangnya aktivitas prostitusi dalam satu Negara yang tidak bisa terhindarkan.

Hal ini telah menimbulkan berbagai fakta, di Indonesia misalnya. Dalam catatan Komnas Perempuan 2010 kemarin, menyebutkan bahwa perdagangan perempuan sebanyak 3.024 orang, dimana 90% dan 25% anak khususnya anak perempuan.

Perdagangan yang dilakukan meliputi pelacuran, penyelundupan, penipuan, penjualan organ tubuh, adopsi illegal, serta penjualan keperawanan. Selain itu, data dari komnas perempuan pada tahun 2010 juga mencatat bahwa terdapat 1.359 perempuan di perdagangkan untuk tujuan seksual.

Dari data tersebut, jelaslah bahwa agenda prostitusi telah menjadikan jutaan perempuan sebagai korban untuk memenuhi hasrat seks dari laki-laki serta menimbulkan sebuah bentuk keterasingan dalam lingkup sosial masyarakat.

Konkrinya, tubuh perempuan telah di kontruksikan sebagai lambang seksualitas dan dianggap sebagai mesin pencetak uang serta proses produksi konsumsi seksualitas ini adalah bentuk realisasi kapitalisme sebagai ajang akumulasi modal/keuntungan dan komoditasnya adalah tubuh perempuan sebagai bahan baku produksi dalam industri hiburan atau industri-industri lain yang bernuansa seksual atau industri pornografi.

Menurut Simone de Beauvior dalam bukunya, Jenny Edkins-Nick Vaughan Williams, dengan judul Teori-Teori kritis, berpendapat bahwa subordinasi atas perempuan tidak dibenarkan secara biologis; perempuan adalah manusia yang sama seperti laki-laki dan harus memiliki status setara di semua aspek kehidupan publik.

Dari pernyataan tersebut, dapat diambil sebuah konklusi bahwa seks dalam kegiatan prostitusi telah mengakibatkan maraknya bentuk diskriminasi secara bilogis terhadap dan penting kiranya realisasi dalam kesetaraan dalam bentuk penerapan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di depan publik.

Persamaan hak yang dimaksud adalah sebuah bentuk keadilan tanpa ada penandaan dan pembedaan antara laki-laki maupun perempuan karena maraknya prostitusi adalah sebuah bentuk hegemoni terhadap tubuh perempuan.

Olehnya itu, harus diberlakukan :akses penididikan seluas-luasnya kepada perempuan, Negara harus mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan, Negara juga harus turut untuk melindungi perempuan dari praktek perdangangan yang bernuansa seks, sebab prostitusi adalah bentuk hegemoni terhadap tubuh perempuan yang sulit untuk di hilangkan apalagi di tengah kemiskinan, dan ketimpangan yang merajalela, maka Negara harus turut melindungi perempuan pekerja seks dalam bentuk perlindungan dari penyakit serta bentuk kekerasan dan diskriminasi yang lain.

Oleh: Andil Asis

Seorang mahasiswa yang sekarang sedang menempuh studi di Universitas Khairun Ternate, dan mengambil Jurusan Kehutanan di Fakultas Pertanian

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download