Download

Kecantikan di Era Modern dan Penindasan Perempuan

KOLOM.LENTERA.CO.ID — Saya mulai pengantar tulisan ini dengan pernyataan R.A Kartini. Ia mengatakan bahwa “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu (perempuan). Tapi, satu-satunya hal yang dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”.

Baca juga: R.A kartini dan Perjuangannya Melawan Kolonialisme dengan Pena

Pernyataan R.A Kartini diatas jelas membuka pikiran kita, bahwa hal yang paling mendasar dari penindasan terhadap perempuan adalah terletak pada cara berpikir mereka. Saat ini, kita hidup di tengah arus globalisasi yang tidak mampu untuk dibendung oleh manusia yang hidup di zaman ini.

Sadar atau tidak, cara berfikir kita juga merupakan manifestasi dari budaya modernisasi. Di zaman modern sekarang ini, trend kecantikan sangat berkembang pesat, apalagi didukung pula oleh perkembangan alat teknologi yang kian canggih. Oleh sebab itu, model kecantikan perempuan lebih cenderung instan dan pragmatis melalui jalur operasi, lipstick, kosmetik, serta obat-obatan yang kini lebih banyak peminatnya dibanding dengan kecantikan secara alami (natural).

Perempuan dan Komoditas Pabrik

Pada zaman modern sekarang ini, secara langsung maupun tidak langsung perempuan seakan telah menjadi komoditas yang layak dijual, diperdagangkan dan dipertukarkan. Perempuan dominan menjadi objek dari bentuk ekspolitasi oleh perkembangan zaman demi kepentingan kapitalisme dan hal ini jelas telah membunuh esensi agama dalam hati dan pikiran yang melarang perempuan harus berpakian dan berpenampilan dengan menutup auratnya.

Baca juga: Catatan Melankolis: Rindu Dalam Imaji Revolusi

Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di media masa, baik cetak maupun elektronik ternyata tidak selalu berdampak positif. Artinya bahwa perkembangan teknologi adalah bagian dari pemicu ekploitasi emansipasi penindasan terhadap perempuan yang telah membuat mereka dirugikan secara halus dan nyaris tak terasa.

Hal ini terjadi dikarenakan kuasa kapitalisme global yang telah merdeka dalam merekonstruksi wacana demi maraup keuntungan semata. Dalam konteks demikian, eksistensi perempuan senantiasa terancam dan acapkali ditampilkan sebagai sebuah komoditas atau barang dagangan. Konkritnya, kita bisa melihat iklan-iklan yang ditampilkan oleh media masa maupun elektronik yang tak jarang menjadikan perempuan sebagai sebuah ikon budaya modern.

Iklan, Tubuh Perempuan yang diekspolitasi

Iklan atau tayangan media merupakan sebuah siasat atau penyebaran kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan.

Produksi kekuasaan yang terjadi adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana tubuh langsing, kulit putih, bibir kemerahan, tampil cantik, rambut hitam dan lurus, serta bisa membuat lawan jenisnya (laki-laki) bisa menyukainya, dan iklan ini dikonsumsi oleh sekian banyak orang sehingga secara tidak sadar, hal ini telah menkonstruksi sebagian besar masyarakat bahwa tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah keharusan bagi perempuan yang hidup di era milenial ini.

Maka wacana yang di tayangkan oleh media masa dan elektronik ini telah mengeksploitasi dan merubah pola pikir masyarakat bahwa esensi kecantikan seharusnya datang dari hati dan pikiran, bukan kecantikan yang dipandang atas dasar anatomi tubuh yang langsing dan performance yang dikenakan.

Kuasa wacana yang di perlihatkan di iklan melalui media masa dan elektronik ini, telah menggiring kaum perempuan dalam sebuah obsesi dan memaksakan diri untuk menggapai wacana tersebut dengan berbagai cara meski terkadang membahayakan mereka.

Obsesi kulit putih, bagi kebanyakan perempuan Indonesia yang berkulit sawo matang dapat mendorong mereka untuk memborong produk kosmetik yang di produksi oleh kapitalis dan yang diperdagangan di pasaran modern.

Maka dari situlah, nampak bahwa obsesi masa mulai berkembang dan setiap perempuan akan merasa diri tidak cantik apabila belum memakai produk kecantikan yang baru, padahal sebenarnya strandar kecantikan itu tidak memiliki tolak ukur yang jelas.

Esensi dari kecantikan sebenarnya bukan dipandang secara nyata melalui tubuh perempuan yang menjadi objek penilaian melainkan sesungguhnya kecantikan adalah hal abstrak yang datang dari hati dan jiwa seorang perempuan.

Marcuse, Totalitarianism, dan Dominasi Teknologi atas tubuh Perempuan

Herbert Marcuse dalam bukunya George Ritzer, Teori Sosiologi: dari sosiologi klasik sampai perkembangan terakhir postmodern, berpendapat bahwa teknologi modern di dalam masyarakat, sebenarnya menyebabkan totalitarianisme. Marcuse memandang teknologi itu menghasilkan metode-metode kendali eksternal baru yang lebih efektif dan bahkan lebih “menyenangkan” atas para individu.

Contoh yang utama adalah penggunaan televisi untuk mensosialisasi dan menenangkan populasi. Marcuse menolak ide bahwa di dunia modern, teknologi bersifat netral, dia malah melihatnya sebagai alat untuk mendominasi masa. Bagi Marcuse, teknologi efektif di buat tampak netral sementara dalam kenyataannya memperbudak, artinya teknologi membantu menindas individualis dan kebebasan batin actor telah diserang dan dikurungi oleh teknologi modern.

Sehingga Marcuse berkesimpulan bahwa masyarakat modern secara keseluruhan bersifat irasional atau yang biasa disebut sebagai masyarakat berdimensi satu.

Dari penyataan Herbert Marcuse ini, kita dapat menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi di era modern adalah sebuah bentuk eksploitasi dan dominasi gaya baru dari kapitalisme atas masyarakat. Hadirnya perkembangan teknologi di era modernisasi secara tidak langsung telah memaksakan setiap manusia untuk ikut dan terjun ke dalamnya tanpa sadar.

Selain itu, kehadiran modernisasi ini juga telah merusak budaya dan etika yang dilarang oleh agama, dan yang lebih dominan dikuasai dari perkembangan teknologi di era modern adalah perempuan yang terpengaruh melalui berbagai varian/model dari produk-produk kapitalis, seperti busana, kosmetik dan lain-lain sebagai model kecantikan gaya baru yang secara tidak langsung menindas perempuan tanpa disadari.

Perempuan, sebagai ikon budaya modern merupakan sebuah bentuk ketidakadilan gender yang dialami perempuan dalam ruang lingkup masyarakat. Akar dari ketidakadilan gender berkaitan dengan budaya patriarki, dalam hal ini terlihat jelas bahwa laki-laki menjadi subjek dengan kekuatannya dan perempuan sebagai objek yang lemah dan di pojokan.

Seks dan ketidakadilan Gender

Dr. Riant Nugroho dalam bukunya Gender dan Strategi Pengurus-tamaannya di Indonesia, menjelaskan, salah satu bentuk ketidakadilan gender adalah pelabelan atau penandaan negatif terhadap perempuan yang dinamakan Streotipe. Pernyataan ini memiliki anggapan bahwa perempuan yang bersolek, biasanya dilakukan dalam rangka untuk memancing perhatian lawan jenisnya (laki-laki), sehingga jika terjadi kasus kekerasan atau pelecehan seksual terhadap perempuan maka perempuan adalah korban yang selalu disalahkan.

Ini bisa kita katakan, bahwa kehadiran budaya modern, telah merantai kebebasan perempuan. Budaya modern dan perkembangan alat teknologi adalah bencana bagi masyarakat terutama kaum perempuan dan budaya patriarki akan berkembang pesat di era ini.

Dari iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal, telah membuktikan bahwa kapitalism sengaja menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang perempuan sexy atau cantik.

Model seperti ini telah menempatkan perempuan sebagai objek yang di kreasi untuk mencapai fantasi tersebut sedangkan laki-laki adalah penciptanya.

Tidak hanya iklan, streotipe juga menempatkan perempuan pada posisi yang merugikan. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, eksploitasi tubuh perempuan yang di ekspos habis-habisan oleh media masa dalam beragam seni pertunjukan peragaan modernisasi model busana.

Perempuan yang menjadi objek justru merasa bangga ketika tubuhnya dipandang oleh jutaan pasang mata (laki-laki) dalam suatu pertunjukan. Padahal dalam konteks inilah ekpansi dan eksploitasi terjadi tanpa di sadari.

Anehnya, jarang sekali kaum perempuan menyadari bahwa hal ini adalah bagian dari ekploitasi kapitalisme demi kepentingan akumulasi modal. Perempuan dalam posisi demikian akan lahir sebagai sebuah narasi, menjelma sebagai sebuah identitas yang mematikan hingga akhirnya ia berubah menjadi budak untuk melayani hasrat kapitalism, hasrat sistem sekaligus hasrat laki-laki.

Berpijak dari fenomena diatas, sekiranya kaum perempuan harus lekas membakar pikiran yang termanifestasi oleh logika kapitalisme yang mengharuskan mereka untuk menggunakan produk berlabel modern berupa busana, lipstick, ksometik dan lain sebagainya.

Tulisan ini bermaksud untuk merubah pola pikiri kaum perempuan. Perempuan harusnya menentang hegemoni kapitalisme dan melepaskan diri dari belenggu konsumerisme yang diciptakan oleh para produsen produk kecantikan dan perawatan kulit yang akhirnya membelenggu perempuan untuk tampil cantik dan ideal.

Karena cantik tidaklah harus berambut panjang, hitam dan lurus, bibir yang agak kemerahan, wajah yang mulus serta busana dan pakaian model baru, melainkan kecantikan merupakan suatu hal yang abstrak meliputi kebersihan hati dan menjaga keseimbangan diri, dan bukan dari penampilan yang menjadi tolak ukur.

Sebab, setiap perempuan itu unik dan tidak bisa disamakan dengan yang lain. Karena itu, monopoli industri media terhadap citra dan idealisasi tubuh perempuan harus segera di akhiri karena tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri dan bukan milik industri, media dan pasar.

Penulis : Andil Asis

Seorang mahasiswa yang sekarang sedang menempuh studi di Universitas Khairun Ternate, dan mengambil Jurusan Kehutanan di Fakultas Pertanian.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download