Download

Cerita Ahmad Talib: Dari Ternate ke Tohoku University dan 9 Prinsip Orang Jepang

KOLOM LENTERA — Ternate, 26 Oktober 2018 pukul 8.30 pagi pesawat yang ku tumpangi terbang dari Sultan Babullah Ternate menuju – ke Denpasar Bali. Tentu bukan tujuan Denpasar, tapi Narita AirPort Tokyo.

Pukul 12.00 WITA atau waktu Bali, pesawat Air Asia tepat waktu take off tujuan Narita AirPort. Beberapa dosen-dosen lainnya yang tergabung pada Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI), terbang bersama melalui Denpasar.

Satu-satunya bekal yang ku bawa adalah Ikan Tuna kaleng yang diproduksi oleh dosen dan mahasiswa yang bakal disantap saat di Jepang. Namun diambil oleh petugas di Denpasar. Walau diambil, hatiku tak masalah sebab akan terobati jika tiba di Narita.

Perjalanan Denpasar – narita Tokyo memakan waktu 7 jam, terasa melelahkan, namun tak ku hiraukan lelah itu karena tertutup perasaan riangku.

Pada 27 Oktober 2018 pagi hari, Tiba di Narita AirPort. Pintu exit pun melalui beberapa kelokan dan lorong hingga menemui cek pasport serta visa. Smua petugas Bandara Narita ramah, sangat bersahabat, tak menyulitkan, meski kami sedikit halau bahasa Jepang. “Mosi-mosi oo haioo gozaimas,” sambut mereka. Aku pun menjawab, “Mosi-mosi.” Begitulah sedikit bekal catatan waktu kursus di kampus.

Mata uang rupiah, ku tukar di money changer sebelum membeli tiket Bus yang nilainya 1000 yen buat menuju Tokyo yang jarak tempunya sekitar 3 jam. Setelah ku duduki dikursi dengan nomor penumpang yang terpasang, perasaan lega dan haru bercampur. “Inilah Jepang yang sejak lama menjadi impianku,” kata ku dalam hati.

Tiga jam berlalu, kami pun tiba di Keisei Stasiun Bus Tokyo. Udara dingin mulai menusuk dbawa gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Sambil menunggu jemputan, kami pun berteduh sejenak ditepih jalan.

Sekilas aku pun mengamati lingkungan sekitar. Tampak sekelompok orang, pekerja kantor yang sedang makan di satu Cafe. Usai makan, semua sisa makanan dan sampah pun disimpan dalam tas mereka. Sementara piring bekasnya dibawah ke dalam. Kursi-kursi yang tadinya dipakai, dilipat dan diletakkan pada tempatnya dengan rapi. Perasaan aku kagum dan takjub atas cara dan kesadaran mereka. Bahwa, bukannya dalam agama kita sudah diajarkan kebersihan itu sebagian daripada iman? Apakah kita sudah praktekkan itu? Aku merasa belum semuanya. “Inilah Jepang negara yang ulet kerja keras dan taat pada norma dan aturan.”

International Conference: Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia

Ohh ya… Keberangkatanku ke Jepang adalah kegiatan International Conference yang di selenggarakan oleh ADRI ( Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia) bekerjasama dengan Tohuku University. Menurutku, suatu kegiatan yang efektif karena selain dapat berwisata di Jepang, juga memenuhi kredit point dosen melalui artikel yang aku kirimkan dan ku presentasikan di IC tersebut. Itulah alasan kenapa teman-teman pada bersemangat dalam kegiatan tersebut.

Sesampai di Tokyo, serombongan nginap di satu apartemen. Disana, kami menunggu kawan-kawan dosen dari seluruh Indonesia. Lalu petualangan kami berlanjut ke Kota Sendai dengan menggunakan Sinkansen, kereta cepat 300 km/jam tujuan kami ke APV Villa Hotel Sendai dengan jarak tempuh dari Tokyo – Sendai sekitar 2 jam. Udara dingin menyambut kedatangan kami, situasi di stasiun kereta tidak seperti stasiun yang aku temui di Indonesia . Bangunan kokoh dan berbagai stand souvenir , swalayan selayaknya Mall Kota yang tertata apik , bersihnya luar biasa.

Banyak pejalan kaki disana. Namun penyeberangan tak boleh seenaknya selayaknya kendaraan bermotor. Sebab, pejalan kakipun menggunakan rambu-rambu seperti trafik light. Tampaknya, mereka sangat patuh. Saya mengancungi jempol soal kesadaran mereka akan tanggungjawab terhadap kebersihan kota dan ketaatan rambu-rambu lalu lintas.

APA VILLA Sendai pada 29 Oktober 2018. Suhu 6 derajat di pagi hari itu, membuat aku harus menggunakan Syal serta Jaket yang bukan kebiasan saya memakainya. Penampilan ku di pagi itu, tampak rapi dan siap mengikuti International Conference di Tohuku University dimana kala itu adalah hari pertama kegiatan kami.

Sembari menanti teman-teman lainnya, saya pun mengabadikan momen ini dengan selfie disekitar gedung itu, sambil memandangi sekitar APA VILLA Sendai, tempat kami menginap. Lingkungan yang sangat asri.

Sendai merupakan ota yang terletak di Jepang bagian utara, Ibukota Prefektur Miyagi. Penduduknya berjumlah 1.030.000 jiwa. Kota asal Band Jepang-Kanada yang terkenal Monkey Majik ini mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011. (sumber Wikipedia). Namun kini Sendai tak lagi terlihat kerusakan sedikitpun. Segalannya tampak pesona.

APA VILLA yang letaknya di jalan protokol, dekat stasiun kereta api atau JR. Di depannya, jalan penyeberangan bagi pejalan kaki . Disitu, terlihat seorang ibu separuh baya dengan penampilannya yang sangat menarik, sedang melalui jalan tersebut. Sontak, ia pun membungkuk lalu mengambil sesuatu di jalan itu. Merasa penasaran apa yang dia ambil, namun saat mengamati, ternyata wanita ini menjumput potongan tissu yang tercecer dan ia masukan ke dalam saku bajunya untuk dibuang pada tempatnya.

Di Tohuku University

Bersama dosen lainnya, kami menyusuri jalan menuju Tohuku University. Berbekal peta sebagai penunjuk arah, dan sesekali kami pun bertanya pada orang yang kami temui diperjalanan hingga sampai di Tohuku University. Tak cukup disitu, kami pun masih mencari lokasi atau ruangan tempat IC diselenggarakan hingga usai mengikutinya.

Setelah itu, pada 31 Oktober, dari Sendai ke Tokyo. Perjalanan dari Senadi ke Tokyo, bersama rombongan ini menjajal transportasi Bus dengan perjalanan 6 jam. Sepanjang perjalanan, terlihat gedung-gedung pencakar langit yang tampak megah. Perjalanan terus dilanjutkan dan diatas kursi Bus yang nyaman didudukinya, melewati sejumlah pabrik-pabrik, sawah yang hijau. Enam jam berlalu, kami tiba di Terminal Bus menuju hotel dimana kami menginap.

Besok paginya, perjalanan kami lanjutkan ke Gunung Fuji Yama. Pemandangan yang sangat memikat. Bunga-bunga Sakura berwarna-warni, khas Jepang. Tak terasa, waktu pun berlalu hingga sore, kereta cepat yang kami tumpangi sudah siap untuk mengantarkan kami diperaduan Pulau Kapuk, dimana kami menginap. Rasa syukur dan haru kami panjatkan kepada Ilahi atas nikmat yang kami terima hari ini.

Belajar dari Jepang

Daratan Jepang sangat terbatas. 80% pegungungan. Tidak cukup untuk meningkatkan peternakan, tetapi saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara terapung yang besar sekali. Negara ini menjadi pengimpor bahan baku dari semua negera di dunia dan mengekspor bahan jadinya. Selain itu, Jepang adalah negara yang kaya akan budaya dan keindahan alamnya. Warga negara Jepang yang disebut “Nihonjin”, rata-rata memiliki kreatifitas yang tinggi sehingga banyak produk dan karya dari negeri Sakura ini sangat dikenal dunia. Salah satu adalah karya seni berupa animasi/anime yang sangat terkenal dan digemari oleh anak muda saat ini atau juga produk elektroniknya. Di dunia fashion juga dikenal dengan gaya Harajuku, serta video game.

Kehebatan itu, tak lepas dari 9 prinsip dasar ini yang menjadi pegangan orang-orang Jepang, yakni:
1. Etika sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
2. Kejujuran dan integritas
3. Bertanggungjawab
4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
5. Hormat pada hak orang lain
6. Cinta pada pekerjaan
7. Berusaha keras untuk menabung dan berinvestasi
8. Mau bekerja keras dan
9. Disiplin dan tepat waktu.

Tokyo, 3 November 2018

Penulis: Ahmad Talib
Dosen Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download