oleh

“Babullah, Karamat dan Pahlawan Nasional”

LENTERA.CO.ID — Pada 4 Februari 2019, sekelompok anak muda Maluku Utara, menamakan komunitas mereka dengan kata ‘karamat’ tiba-tiba muncul di ruangan saya untuk minum kopi sambil berdiskusi lepas. Tema sentralnya meraka adalahtokoh Babullah. Mereka berniat melakukan terobosan untuk memperoleh status sebagai pahlawan nasional bagi Babullah. Saya pun memberikan 4 judul buku bagi mereka untuk menjadi rujukan atas komitment mereka tersebut. Salah satu buku tersebut adalah “Halmahera and Beyond” yang disunting anropolog Leontine Elizabeth Visser. Buku tersebut kebetulan diberikan Profesor Adrian B. Lapian pada Januari 2003 dalam sebuah forum dimana saya mengundang beliau untuk hadir. Memang dalam buku Halmahera and Beyond, bab 1 nya adalah tulisan A.B.Lapian tentang Bacan and the early history of North Maluku. Tulisan tersebut adalah makalah yang beliau sampaikan dalam sebuah forum di Leiden Belanda pada akhir 1980-an. Buku lainnya adalah buku karangan M.Adnan Amal tentang Babullah (Tahun-tahun Yang Menentukan, Babullah Datu Syah Mengakhiri Kehadiran Portugis di Maluku). Beberapa hari sebelumnya, komunitas karamat ini juga telah menemui Profesor Susanto Zuhdi, seorang sejarahwan Universitas Indonesia untuk berbincang hal yang sama. Saya memang turut merekomendasikan Prof. Santo untuk mereka temui. Karena pada 2015 lalu, sejarahwan Prof. Anhar Gonggong, saya, Dr. Donny Gahral Adiansyah dan Prof. Santo sempat mengisi forum diskusi di Labuha, Bacan, yang diadakan oleh pihak Keraton Sultan Bacan.

Memang selama ini, gelar pahlawan nasional nyaris dibatasi hanya sekitar perlawanan melawan Kolonial Belanda semata. Sejarah tidak ditarik kebelakang era kolonial Belanda tersebut. Padahal kita tahu, dari berbagai dokumen sejarah dan catatan bahwa pertarungan nusantara melawan bangsa barat (Eropa), bukan hanya perlawanan terhadap Belanda. Nusantara juga pernah diduduki Portugis dan Spanyol sebelum tibanya Cornelis de Houtman (Belanda) di Teluk Banten maupun Francis Drake dan Henry Middelton yang tiba di Ternate dan Banten. Bahkan di Halmahera pernah mengibarkan bendera Perancis dan menyatakan menjadi bagian dari kekaisaran Perancis. Tercatat Pierre Poivre, seorang padri Perancis dua kali menyelundupkan bibit cengkih dari Maluku Utara ke Madagaskar. Cengkih Zanzibar, Madagaskar ternyata berasal dari Maluku karena penyelundupan yang dilakukan Pierre Poivre yang berhasil lolos dari kepungan hongi tochten dan tindakan ekstirpasi Belanda untuk memonopoli rempah-rempah Maluku tersebut. Bahwa ketentuan negara terhadap pembatasan periodisasi penetapan status bagi gelar pahlawan nasional, dengan sendirinya memaksakan diri kita untuk menjadi bangsa bermemori pendek, jika tidak mau di sebut dimensia sejarah alias ahistoris.

Hanya bertautan setahun setelah didudukinya Malaka oleh Portuigis pada 1511, Antonio de Abreau dan Fransisco Serrao telah tiba di Maluku. Serrao tercatat menetap di Ternate hingga akhir hayatnya. Ia adalah orang Eropa pertama yang menetap di nusantara dan membangun benteng Toloko di Ternate. Karena Serrao sempat menjabat Liutenant General (Letnan Malamo), sebuah jabatan sebagai penasehat militer di Kesultanan Ternate. Serrao bahkan menulis surat ke raja Portugal bahwa ia diterima baik dan diangkat sebagai pejabat oleh kesultanan. Sedangkan Antonio de Abreau, kembali ke Portugis. Memang awal kehadiran Portugis di nusantara, khususnya di Maluku, memperoleh kemudahan yang besar dari Sultan Khairun. Bahkan Pastor Adolf Heuken SJ, dalam Be The Eye Witness to the Ends of Earth (2002), pada bab Ternate, menyebutkan bahwa para paderi Portugis seperti Fransiscus Xaverius, menyebut Sultan Khairun sebagai “the Sultan with the good manners.”Sultan Ternate telah menjadi sahabat dan menjadi partner diskusi para paderi itu baik tentang filsafat maupun teologi.Alfonso de Castro, pernah melaporkan kepada pusat misi Ordo Jesuit di Roma bahwa toleransi yangditunjukkanSultan Khairun sangatlah luar biasa. Khairun tidak segan mengirim juanga dan prajurit untuk melindungi para misionaris Jesuit jika mendapat gangguan dari penduduk lokal. Memang jejak Xaverius itu demikian panjang dariAmbon, Ternate hingga Nagasaki, Jepang dan China (1549).Pada Agustus 1988, ketika mengikuti ProgramPemuda ASEAN selama sebulan di Jepang, saya sempat mengunjungi Nagasaki dan melihat jejak Xaverius tersebut. Karena gereja tertua di Nagasaki juga adalah korban bom atom pada 1945 oleh Amerika Serikat. Bahkan gerbang depan gereja Xaverius yang hangus kena bom, tetap di abadikan sebagai warisan sejarah dan menjadi objek wisata.

Namun saja, sikap baik Sultan Khairun, juga berakibat semakin dipersekusinya Maluku oleh Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Apa yang dilakukan Portugis terhadap Malaka, mau diberlakukan yang sama juga terhadap Maluku. Khairun sendiri, walaupun memiliki beberapa kerabat dekat seperti Dona Catarina, Tabariji (Dom Manuel) dan Dona Isabella yang telah memeluk Kristen. Ternyata akhirnya membayar mahal karena ia justeru tewas di tangan Antonio Pimentel atas perintah Dom Diego Lopez de Mesquitta, Gubernur Portugis di Ternate, dalam undangan resmi jamuan makan di Benteng Nuestra Senhora del Rosario, Kastela, pada 28 Februaru 1570.Nakh, atas tragedi pembunuhan Sultan Khairun secara licik ini, memicu kemarahan rakyat Maluku. Tampillah Babullah sebagai pengganti ayahnya Sultan Khairun, untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis. Perlawanan ini demikian sengitnya karena rakyat melakukan blokade terhadap benteng Portugis selama lima tahun dibawah komando Pangeran Tulo. Sejarahwan Marle C. Rickelfs mencatat Lopez Mesquitta, sang gubernur Portugis yang licik itu, ternyata tewas dalam perjalanan pulang ke Goa. Ia terbunuh di Jepara ditangan para perompak. Namun dalam catatan lain, menurut Prof. Dr. F.W.Stapel (1939), menyebutkan bahwa Mesquitta terbunuh di Jepara ditangan Pasukan Gresik yang merupakan sekutuTernate, karena mereka pernah bersama Pasukan Hitu menyerang Portugis di Ambon. Ternate memang memiliki relasi erat dengan Gresik dan Tuban sejak Sultan Zainal Abidin menjadi santri Sunan Giri. Tadinya Raja Muda Portugis di Goa, Ayres de Saldanha, hendak menyerahkan Mesquitta kepada Babullah untuk diadili oleh Pengadilan Portugis di Ternate. Namun komandan armada Portugis, Agustino Nunez, dan komandan Benteng Portugis di Ambon, Sancho de Vasconcellas, menolak dan lebih memilih mendeportasikan Mesquitta ke Goa untuk diadili. Namun saja pada 24 September 1579, Lopez Diego de Mesquitta, sang pembantai Sultan Khairun itu ternyata tewas di tangan pasukan Gresik di pelabuhan Jepara. Babullah juga kemudian memblokade seluruh perairan laut Maluku dari armada Portugis. Menurut Djokosurjo(lihat : Agama dan Perubahan Sosial, 2001:126), Babullah memang menggunakan seluruh sekutunya dari Jawa, Makassar bahkan Melayu (Sumatera), kekuatan gabungan ini berjumlah 2.000 kapal tempur dengan lebih dari 120.000 prajurit dalam melawan Portugis ini hingga meninggalkan Maluku selamanya pada 1575.

Bahwa peristiwa penaklukan kekuatan Eropa di nusantara ini, adalah peristiwa pertama nusantara mengalahkan kekuatan imperium Eropa, baik oleh Fatahillah maupun Babullah. Kita tahu bahwa Portugis dan Spanyol adalah dua imperium yang merupakan kekuatan maritim terbesar pada abad pertengahan. Saking besar pengaruh perebutan kedua super power abad pertengahan itulah membuat Paus Alexander VI turun tangan mendamaikannya melalui Perjanjian Tordesilas pada 4 Juni 1474. Perjanjian mana membagi dunia atas dua bagian yang masing- masing dibagikan kepada Portugis dan Spanyol. Hanyalah Babullah dan Pangeran Fatahillah, yang tercatat memenangkan pertarungan melawan Eropa di persada nusantara. Babullah pun dinamai Salahuddin dari Timur, untuk menyetarakan kemenangan Babullah dengan Sultan Saladin (Salahuddin Al Ayubi) yang berhasil menaklukkan Jerusalem dalam Perang Salib. Adapun Fatahillah dalam menaklukkan Portugis di Sunda Kelapa dan merubah namanya Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, atau kemenangan yang terakhir, turut melibatkan pasukan dari Ternate dan Tidore, menurut penuturan sejarahwan Profesor Uka Tjandrasasmita. Fatahillah melibatkan Ternate dan Tidore karena tahu akan perseteruan Portugis dan Ternate. Nama Jayakarta-lah yangkemudian menjadi Jakarta hingga sekarang. Nama ibukota ini mengabadikan legacy Fatahillah yang memenangkan pertempuran melawan Portugis di nusantara. Bahkan ulang tahun Kota Jakarta, ditetapkan sesuai dengan tanggal penaklukan Portugis oleh Fatahillah pada 22 Juni 1527 tersebut. Nakh, Jayakarta atau Sunda Kelapa kelak pada era VOC ditaklukan lagi oleh Gubernur Jenderal Belanda ke 4 dari Ternate, Jan Pieterzoen Coen, dan merubah lagi Jayakarta menjadi Batavia.

Babullah sendiri lahir pada 10 Februari 1528, dari ayahnya Sultan Khairun Djamil dan ibunya Puteri Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sejak muda telah terlibat dalam perang Terntae melawan Portugis yang pertama (1559-1567). Babullah tampil sebagai panglima yang cakap. Sebelumdinobatkan menjadi sultan, Babullah telah berkeliling berbagai negeri dalam kapasitasnya sebagai Panglima Angkatan Laut (Kapita Laut) Kesultanan Ternate. Tidak mengherankan jika dalam berbagai referensi Babullah Datu Syah disebut sebagai penguasa 72 pulau. Karena kekuasaan dan pengaruhnya mencapai Sarangani dan Mindanao, Filipina. Dan ditangan Babullah pula pada tanggal 15 Juli 1575, seluruh pasukan Portugis meninggalkan Ternate selamanya. Dalam melawan Portugis, Babullah tak kurang menggerakkan 30 juanga yang berkekuatan 3.000 serdadu dibawah pimpinan Kapita Kapalaya, Kapita Kalakinka dan Kapita Rubuhongi. Akhirnya 15 Juli 1575, Portugis pun terusir dari Ternate. Oleh Buya Hamka, disebutkan inilah kemenangan pertama nusantara atas kekuatan barat dan mampu menunda penjajahan barat atas nusantara selama 100 tahun.

Babullah juga kemudian menerima kunjungan Francis Drake pada 3 Nopember 1579, seorang pelaut Inggris yang pertama berlayar ke Maluku dengan kapal Golden Hind yang legendaris tersebut. Menurut catatan Des Alwi, pada era Babullah, Ternate melakukan hubungan diplomatik dengan Inggris. Kekuasaannya meliputi Filipina Selatan hingga Kepulauan Marshall di Pasifik. Ternate pun dicatat sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di timur nusantara. Tidaklah mengherankan jika J..C van Leur dalam Indonesian Trade and Society mengatakan bahwa Indonesian history is international history – sejarah Indonesia hakikatnya adalah sejarah internasional. Karena hampir semua persitiwa lokal di nusantara memiliki keterkaitan dengan pentas Eropa dan dunia.Juga Henk Nijmeijer, sejarahwan ahli Maluku pada Universitas Leiden, Belanda menyatakan bahwa seluruh peristiwa di Maluku, terhubung dengan Eropa bahkan Amerika. Tidaklah mengherankan jika dari konflik Babullah dan Portugis, hingga Manhattan, New York, sejarahnya terpaut dengan Maluku.

Dari dua tokoh nusantara, Fatahillah dan Babullah, yang mencatat kemenangan dalammenaklukkan kekuatan imperium besar abad pertengahan, Portugis dengansekelumit catatan diatas, adalah wajar jika memori kolektif kebangsaan kita, haruslah diwujudkan dalam penganugerahan Babullah sebagai pahlawan nasional. Tuntutan bagi status dan gelar pahlawan ini sesungguhnya adalah sebuah keniscayaan sejarah (historical necessity) bagi setiap anak bangsa yang mau menghargai legacy patriotisme yang konon kini mulai memudar.

Saya berpendapat bahwa menteri sosial, dapat dipastikan tidak akan berkeberatan atas usulan ini. Karena memang prosedur gelar pahlawan nasional berada dibawah otoritas kementeriansosial sebelum ditetapkan oleh presiden selaku kepala negara. Disamping itu juga, menteri sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita, adalah cucu langsung dari Jenderal Didi Kartasasmita. Beliau terkait ikatan sejarah dengan Maluku. Didi Kartasasmita adalah seorang pejuang dan pendiri TNI awal kemerdekaan Indonesia, adalah lulusan akademi militer Breda, Belanda(Koningklijke Militaire Academie) yang lulus pada Juni 1935 dengan pangkat letnan dua. Setelah lulus sebagai perwira muda KNIL beliau ditugaskan di Ambon dan Ternate. Didi Kartasasmita sendiri adalah kakak kelas dua tahun dari Pangeran Hamid Syarif Alkadri, Sultan Pontianak (Sultan Hamid II), yang juga lulusan Breda pada 1937. Sebagai perwira muda KNIL, Didi Kartasasmita ditempatkan di Maluku sejak September 1939. Ia juga pernah mengamankan peristiwa berdarah yang mengakibatkan terbunuhnya Jogugu Kesultanan Ternate. LetnanDidi Kartasasmitadalam catatannya,sempat diminta oleh Sultan Ternate,Muhammad Djabir Syah untuk mengamankan peristiwa berdarah karena kesalahpahaman pembayaran pajak tersebut. Didi memimpin dua brigade dan pada pukul 02.00 dini hari, dan pasukannya berhasil menahan 59 orang tanpa pertumpahan darah. 59 orangwarga ini kemudian diserahkan Letnan Didi kepada Sultan Djabir Syah untuk diadili sesuai hukum adat Ternate. Atas jasanya menyelesaikan kasus ini, oleh Inspektur Infanteri Belanda yang berkantor pusat di Bandung, ia diberikan penghargaan. Maklum saja Letnan KNIL Didi Kartasasmita sejak bertugas di Ternate, ia menetap di Benteng Oranje dan aktif bermain bola dengan penduduk Ternate, karenanya ia akrab dan mengenal banyak warga setempat. Didi sendiri berada dibawah opsir KNIL Kapten Sondakh dan Letnan Kolonel Scholten saat berdinas di Ternate. DidiKartasasmita adalah sedikit dari perwira KNIL yang yang turut memihak kemerdekaan Republik Indonesia karena menolak diaktifkan kembali oleh KNIL. Hal yang berbeda dengan adik kelasnya di Breda, Sultan Hamid II yang didakwa terlibat dalam peristiwa kudeta gagal Westerling, 1950. Sebagai opsir muda KNIL, Didi turut terlibat pertempuran pasukan KNIL melawan Jepang di Kudamati, Ambon saat pasukan Jepang mendarat di Kota Ambon pada 31 Januari 1942.Nakh, benang merah kecil ini, saya kira akan menjadi ikatan emosional historis masyarakat Maluku Utara, untuk menjadi jalan masuk (entry-point) bagi terwujudnya tuntutan gelar pahlawan nasional bagi figur besar bangsa selegendaris Sultan Babullah, Sang Salahuddin dari Timur tersebut.

Ketika Maluku Utara diperjuangkan untuk menjadi provinsi pada 1998-1999, saya juga terlibat dan melapor ke Mabes TNI diCilangkap maupun Mabes Hankam, untuk memperoleh persetujuan dari Asisten Teritorial/Aster TNI. Letjen. Susilo Bambang Yudhoyono (kemudian menjadi Presiden RI) dan Wakil-Aster TNI. MayJen. Sudi Silalahi (Mensekneg pada periode kepresidenan SBY), serta Sekjen Dephankam saat itu, Letjen TNI. Sujono. Kamipun sempat diterima Asisten Politik Luar Negeri (Aspolugri) Hankam, Mayjen TNI. Albert T. Paruntu, karena posisi geografis Maluku Utara sebagai wilayah perbatasan teritorial Indonesia yang harus meperoleh verivikasi dari Hankam. Ternyata TNI kemudian lebih cepat bergerak menghargai kepahlawanan Babullah. Karena TNI dengan segera merelokasi batalyon infanteri 737 dari markasnya di Siko-Ternate ke Jailolo Halmahera Brat, dan membentuk KOREM 152 dengan mengabadikan nama Babullah. Tidak mengherankan jika budayawan pendidikJusuf Abdurrahman, suatu saat berkata kepada saya bahwa TNI lebih tanggap menghargai sejarah Jaziratul Mulul daripada kita anak negeri sendiri. Karena mereka menggunakan nama Babullah, sang pejuang itu, sebagai nama KOREM yang baru dibentuk tersebut. Saya pun pernah diberi jaket rimba oleh Mayjen Agus Surya Bakti, seorang prajurit Kopassus ketika menjabat Danrem 152 Babullah. Dan dalam jabatannya di Ternate ia justeru memperoleh bintang satu (Brigadir Jenderal). Dalam sebuah rapat dengan BNPT, ketika Mayjen Agus Surya Bakti menjabat wakil kepala BNPT, saya bisik ke beliau, jaketnya masih saya simpan di Ternate. Terakhir Mayjen Agus Surya Bakti sempat menjadi Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Makassar. Adapun Makassar yang memiliki kelurahan Moloku danMasjid Moluku dikawasan Somba Opu itu, adalah nama yang diabadikan Raja Gowa Tallo saat menerima kunjungan Babullah ke Makassar pada 1580, sebagaimana penuturan budayawan Universitas Hasanuddin, Prof. Mattulada.Dalam kunjungan inilah Babullah mengembalikan Pulau Silayar kepada kekuasaan Gowa Tallo.

Akhirnya, adalah sebuah kepantasan sejarah, jika tuntutan teman-teman “karamat” memperjuangkan gelar pahlawan bagi Babullah Datu Syah tersebut. Karena mereka seakan mewakili memori kolektif setiap anak bangsa, serta mau merawat nalar sehat agar kita tidak menjadi generasi pengidap amnesia sejarah. Ternyata ditengah hingar-bingar dan gonjang-ganjing politik yang lebih sering menyesakkan nalar sehat kita, masih ada sekelompok anak muda yang masih jernih berpikir dan bertindak. Tidak terjebak pada memori pendek dan kepentingan politik sesaat. Karena gelar pahlawan nasional sendiri memiliki makna nilai simbolik dibalik itu, bahwa bangsa ini memiliki patronase yang tepat dan benar untuk dijadikan panutan. Pahlawan adalah personifikasi dan patronase agar bangsa ini tidak hilang arah dalam perjalanan menuju masa depannya. Ada alur historis dan heroik sebagai sebuah fakta yang harus dibentuk menjadi nalar kolektif kita.

Referensi :
1. Adolf Heuken SJ. Be The Eye Witness to the Ends of Earth. The Catholic Church in Indonesia befre 19th Century. Cipta Loka Caraka. Jakarta. 2002.
2. Antonio Pinto da Franca. Pengaruh Portugis di Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 2000.
3. Bartholomew Leonardo de Argensola. The Discovery and Conquest of the Molucco and Philippine Islands. London.1708.
4. L.E.Visser. Halmahera and Beyond. KITLV Press. Leiden.1994.
5. M. Adnan Amal. Tahun-tahun Yang Menentukan. Babullah Datu Syah Mengakhiri Kehadiran Portugis di Maluku. Jakarta. 2008.
6. M. Adnan Amal. Portugis dan Spanyol di Maluku. Komunitas Bambu. Jakarta. 2009.
7. Paramita R. Abdurachman. Bunga Angin Portogis di Nusantara. Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia. LIPI Press. Jakarta. 2008.
8. Tatang Sumarsono. Didi Kartasasmita. Pengabdian bagi Kemerdekaan. Pustaka Jaya. Jakarta. 1993.

Penulis: Syaiful Bahri Ruray
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Maluku Utara

Tentang Penulis: SYAIFUL BAHRI RURAY

SYAIFUL BAHRI RURAY
Syaiful Bahri Ruray . Penulis adalah Pemerhati Sejarah dan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Maluku Utara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *