Download

Orientasi Pengkaderan HMI sebagai Learning Organization di Era Disrupsi

(Catatan Mengenang 72 Tahun HMI)

LENTERA.CO.ID — Penulis: MUSTAFA MANSUR
(Alumni HMI dan Staf Pengajar FIB Unkhair Ternate)

Transformasi teknologi informasi dan teknologi (TIK) pada abad XXI sesungguhnya mendorong lahirnya Revolusi 3.0. Revolusi ini pada initinya adalah terciptanya sistem pertukaran informasi yang andal sebagai upaya mengarahkan proses mesin secara independen dari interaksi manusia secara terus-menerus (Wahab, 2017). Dampak daripada Revolusi 3.0 telah melahirkan berbagai tantangan perubahan yang semakin kompleks sehingga era ini juga disebut dengan era disrupsi. Untuk mengatasi era disruspi itu, maka dikembangkanlah sebuah sistem baru yang lebih dikenal dengan Revolusi 4.0.

Revolusi 4.0 adalah sebuah konsep atau sistem yang pada awalnya digunakan oleh dunia industri untuk mengembangkan properti manufaktur melalui layanan berbasis daring (online). Dengan layanan online tersebut, diharapkan gangguan-gangguan (disrupsi) iklim usaha yang dikembangkan melalui proses mesin dapat dikembangkan dan diinovasi melalui layanan yang baru (daring) yang lebih cepat dan terkoneksi secara tepat. Saat ini, Revolusi 4.0 juga telah dikembangkan bukan hanya berorientasi untuk kepentingan manufaktur, tetapi lebih luas lagi digunakaan untuk kepentingan layanaan pada semua sektor kehidupan manusia.

Transformasi teknologi informasi dari Revolusi 3.0 ke Revolusi 4.0, sesungguhnya telah melahirkan revolusi kebudayaan global merembet menembus batas wilayah. Sebuah peluang dan tantangan anak zaman yang hadir di tengah-tengah masyarakat yang plural telah menimbulkan pergeseran nilai di sampaing perubahan yang positif. Salah wujud dari revolusi kebudayaan global adalah terciptanya generasi millenial pada abad XXI ini. Generasi milenial merupakan transformasi kelompok demografi dari generasi X ke generasi Y.

Istilah millennial berasal dari kata millenials yang diperkenalkan Sejarawan William Strauss dan Penulis Neil Howe dari Amerika. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1980-an, 1990-an, dan di atas tahun 2000 (http://www.kominfo.go.id). Karakteristik dari generasi millenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital (http://id.m.wikipedia.org).

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa dan organisasi perjuangan yang lahir dari sebuah gerakan kultural keagamaan, hendaknya dapat menjaga dan mempertahankan kepribadian dan nilai-nilai peradaban bangsa Indonesia. Secara realitas, HMI sekarang diperhadapkan dengan dilemah antara mempertahankan kejayaan masa lalu dengan sebuah gelombang besar revolusi kebudayaan yang menghantam tegaknya tongkat kebudayaan bangsa. Dilemah ini menjadi fenomena yang penting dan menarik untuk disimak, karena berhubungan dengan nasib sejuta generasi yang secara sosiologis, dampak dan revolusi kebudayaan itu dialamatkan kepada mereka. Kondisi ini harus menjadi ikhtiar dalam menghadapi tantangan perubahan pada era Society 5.0. Era ini merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based) yang dikembangkan oleh Jepang. Konsep Society 5.0 diluncurkan oleh Pemerintah Jepang pada 21 Januari 2019 sebagai pengembangan dari Revolusi 4.0 yang dinilai mendegradasi peran manusia. Konsep Society 5.0 ini diyakini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan kearifan baru.

Oleh karena itu, HMI sebagai bagian dari stakeholder pembangunan bangsa, hendaknya mampu memainkan peran-perannya yang nyata dengan bersandar pada nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri di samping nilai-nilai keislaman. Dalam konteks inilah, kebudayaan menjadi penting sebagai pendekatan nilai-nilai kepribadian bangsa kita. Kebudayaan harus dipandangg secara konstruktif sehingga dapat membimbing tarikan globalisasi yang cenderung menghabiskan energy publik yang tidak strategis dan mubazir yang bermuara pada kerawanan publik yang kemelut, ketimbang kewarasan publik dalam menafsirkan makna sebuah perubahan. Hal ini bukanlah sesuatu tanpa sadar, karena kegemilangan masa lalu HMI sesungguhnya juga dapat meletakkan perangkat peradaban bangsa dalam konteks sosial-kultural masyarakat Indonesia.

Untuk mengimbangi deras arus transformasi global di atas, maka selaku kader umat dan kader bangsa, HMI dituntut memiliki kesiapan mental dan kemampuan profesionalisme dalam menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, di samping pentingnya peningkatan kualitas iman dan taqwa (IMTAQ). Peningkatan kualitas sumber daya manusia ini harus dapat dilakukan secara terencana, intensif, efisien, terevaluasi, dan berkelanjutan (sustainable).

Dengan demikian, maka HMI sebagai wadah penyelenggaraan kaderisasi, haruslah dikelolah secara professional dan terukur dalam mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan (sklill) yang dimilikinya untuk siap menghadapi era disrupsi dan kompetisi global saat ini dan akan datang.

Bertolak dari dari gagasan di atas, maka HMI haruslah menjadi organisasi pembelajaran (learning organization). Dalam konteks ini, HMI akan bisa beradaptasi dengan lingkungan, mendeteksi perubahan sejak dini, dan bahkan bisa mempengaruhi lingkungannya. Untuk menunjang harapan tersebut, maka diperlukan beberapa langka penting sebagi berikut:

1. Rekonstruksi Sistem Pengkaderan

Rekonstruksi sistem pengkaderan yang dimaksud bukan sekedar menambal suram pedoman perkaderan melainkan pembenahan terhadap semua bagian yang terlibat dalam perkaderan, seperrti pola rekuitmen, pola training, pola keterlibatan pasca LK-I dan pola promosi kader. Rekonstruksi sistem pengkaderan juga berarti pembenahan terhadap materi cara sosialisasi nilai dasar HMI yang sampai saat ini masih belum terhayati dengan baik. Menjabarkan NDP dalam bahasa yang sederahana tanpa mengurangi bobot materi menjadi salah satu pilihan. Oleh karena itu, perkaderan HMI mesti digerakkan pada terciptanya pribadi pembelajar (individual learning) yang terus-menerus berusaha meningkatkan kapasitas penciptaan masa depan. Ia diharapkan tumbuh menjadi sosok mujtahid (pemikir), mujahid (pejuang), dan mujaddid (pembaharu).

2. Memotong ketergantungan Pendanaan Eksternal

Ketergantungan pendanaan eksternal menyebabkan posisi HMI tidak setara dengan pihak eksternal secara psikologis. Oleh karena itu, sudah saatnya dimulai langkah untuk mandiri dalam jangka panjang. Banyak yang beranggapan bahwa visi ini adalah visi yang unactionable (visi yang tidak dapat diterapkan), tetapi kegagalan sesungguhnya tertelatk pada ketidaksiapan dan kemauan HMI membangun sinergi dengan aturan yang lebih jelas. Kalau dapat diatur sinergi dengan peran, tanggung jawab, dan hak di antara yang melakukan sinergi, maka akan dihasilakn sumber-sumber pendanaan yang lebih permanen dan kontinu. Pada tahapan awal, yang harus dilakukan adalah membuat prototipe-prototipe unit usaha yang memungkinkan untuk dikembangkan atau prototipe unit usaha yang dikerjasamakan.

3. Rekuitmen Pengurus Yang Lebih Selektif

Pengurus merupakan penggerak yang akan menjadikan organisasi bukan sekedar hidup dan bertahan belaka. Ia memiliki kewajiban agar HMI juga belajar, tumbuh, berkembang dan kokoh. Karena itu, pengurus mesti beranggotakan pribadi yang mau belajar terus-menerus, bekerja keras meningkatkan kapasitas penciptaan masa depan organisasi. Yang penting untuk diperhatikan adalah jangan sampai terjadi free rider effek (efek penumpang gelap), di mana ada pengurus yang tidak membayar statusnya dengan kerja dan kreatifitas. Jika terjadi fre rider effect, maka akan memicu orang lain untuk melakukan hal yang sama.

4. Menggeser Konflik Politik Internal kepada Konflik Pemikiran

Seperti dipahami oleh banyak orang bahwa nuansa konflik di HMI sangat tinggi. Konflik memang terkadang diperlukan untuk memicu kekacauan kreatif, tetapi dari hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, konflik politik internal, apalagi dalam kadar yang berlebihan, lebih banyak bernuansa kekacauan deskruktif. Oleh karena itu, kondisi ini mesti dialihkan pada konflik pemikiran yang dapat melahirkan gagasan-gagasan besar yang sudah lama absen dari HMI. Suasana diskusi, berfikir dan berkreasi di ranah intelektual mesti didorong agar tumbuh dengan baik. Iklim yang baik akan mendorong lahirnya gerakan intelektual bukan hanya sekedar kemunculan satu dua orang secara individual.

5. Memperkuat Basis HMI

Penguatan basis sebenarnya telah menjadi program pada banyak periode kepengurusan HMI baik di tingkat Pengurus Besar, Badko, Cabang, hingga Komisariat. Tetapi lebih banyak sloganitas daripada sebuah rencana kerja yang dapat dilaksanakan dan dievaluasi. Penguatan basis bertujuan untuk memperkuat suasana pembelajaran dan mempertinggi kualitas interaksi. Penguatan basis apabila dibiarkan terbengkelai akan mengancam eksistensi HMI pada waktu mendatang. Saat ini saja pada beberapa kampus, nama HMI nyaris tidak terdengar. Kampus-kampus itulah yang mesti disemai kembali benih HMI agar memberi pengaruh bagi citra dan dialektika internal HMI yang lebih baik. Bukan berarti kampus-kampu lain tidak penting dikuasai oleh HMI tetapi pada kampus-kampus itu HMI masih eksis dengan cukup baik.

6. Pilitical Textual, meletakkan Politik HMI pada: Berkata Sebenarnya dan Bertindak Seharusnya”

Sebagai organisasi mahasiswa, menempatkan posis merupakan faktor penting bagi eksistensinya. Apalagi di tengah tarikan kepentingan yang kemungkinan besar akan di alami oleh alumni HMI. Penempatan sikap politik pada political textual akan menghindarkan HMI pada pada jebakan politik yang syarat kepentingan. Di samping itu, akan menghindarkan HMI pada kebingumgan politik yang menyeret HMI pada tidak adanya sikap politik. Posisi ini mensyaratkan dipatuhinya beberapa kaidah. Pertama, sikap dan tindakan kader HMI secara substansi mesti benar, karena independensi HMI adalah berpihak pada kebenaran. Kedua, secara etik mestinya baik. Ketiga, seirama dengan perbuatan. Keempat, mesti berbobot dengan rasionalitas yang bernilai tinggi. Kelima, sikap HMI mesti bermanfaat bagi HMI, bagi umat dan bangsa.

Langka Penting yang Harus Dilakukan

Sebuah visi akan gagal apabila ia tidak ditopang oleh stakeholder organisasi. Stakeholder organisasi HMI adalah mereka yang berkepentingan terhadap HMI baik secara einternal seperti kader, pengurus, alumni maupun secara eksternal seperti pemerintah, LSM, Partai Politik, Pers, dan lain-lain.

Yang paling penting adalah daya dukung internal untuk berubah. Menjadi tidak mudah merubah organisasi seperti HMI karena organisasi ini telah besar dan tua dengan budaya yang membatu serta arogan. Oleh karena itu yang paling penting untuk dilakukan adalah membangkitkan sense of urgency (rasa keprihatinan) atas kondisi HMI hari ini. Sebenarnya langkah membangkitkan rasa keprihatinan secara radikal pernah dilontarkan oleh Cak Nur dengan ide “HMI sebaiknya membubarkan diri”. Sayangnya ide ini tidak mendapatkan tanggapan memadai dari stakeholder HMI dan Cak Nur tidak memiliki waktu yang cukup untuk terus memantik rasa keprihatinan HMI.

Sense of urgency menjadi penting karena tanpa rasa keprihatinan, kader HMI akan memandang dirinya tetap belum menghadapi masalah besar dan merasa tetap eksis meskipun tidak melakukan perubahan apapun. Apabila sudah ada rasa keprihatinan yang mendalam terhadap HMI, maka akan tumbuh keinginan untuk bersama-sama memperbaiki HMI.

Setelah tumbuhnya rasa keprihatinan terhadap organisasi, langkah penting kedua adalah membangun visi baru, suatu gambaran masa depan yang ingin dicapai secara bersama. Visi baru ini mesti dibangun oleh stakeholder HMI sekaligus untuk meneguhkan sense of commitmen dari seluruh elemen HMI. Dengan dibangunnya visi baru secara bersama, maka rasa kepemilikan terhadap nasib organisasi ke depan akan semakin baik. Setelah gambaran tentang masa depan mulai terbangun, langkah ketiga yang harus dilakukan adalah mensosialisasikan visi tersebut kepada semua pihak yang berpotensi mendukung pencapaian organisasi.

Namun yang paling terpenting dari ketiga langkah di atas adalah komunikasi yang intensif dengan seluruh elemen. Fungsionaris Pengurus Cabang yang turun ke komisariat hendaknya tidak sekedar mengikuti upacara formal (pelantikan, pembukaan LK-I, RAK, dll), tetapi melakukan pertukaran gagasan tentang organisasi dan mensosialisasikan ide-ide perubahan. Demikian pula harus dilakukan juga oleh alumni agar visi baru tersebut tidak mendapat hambatan dari lingkungan terdekatnya.

Demikianlah beberapa gagasan yang ingin penulis curahkan selaku alumni HMI di Hari Ulang Tahun HMI yang ke-72. Gagasan ini, merupakan bentuk kolaborasi dengan beberapa gagasan para senior yang sekarang sudah menjadi alumni juga. Semoga bisa menjadi semangat dan inspirasi untuk menjadikan HMI sebagai organiasi pembelajar yang dapat membimbing pengembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, seni, dan budaya dalam menghadapi era disrupsi dewasa ini. Dirgahayu HMI ke-72, Jayalah HMI, Jayalah Indonesia. Yakin Usaha Sampai.

Terima kasih.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download