Download

72 Tahun Usia HMI, Larut dalam Romantisme Sejarah

LENTERA, KOLOM — Penulis: Abdul Rais Abbas (Ketua Bidang HMI Cab Jogja Raya 2017-2018)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pernah menoreh tinta emas dalam perjalananya. Hampir dalam setiap episode kehidupan berdemokrasi, berbangsa dan bernegara, HMI pun mewarnai dan aktif menunjukkan eksistensinya. Diawali dari fase pembentukan dan konsolidasi, fase pembinaan dan pengembangan hingga fase keemasan dan jayahya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Merekam banyak potret 1001 cerita dan kejayaan masa lalu yang layak di bicarakan dan di ceritakan kembali untuk generasi kita dan generasi yang akan datang. Satu sisi sebagai ajang refleksi, evaluasi dan pembelajaran untuk proyeksi ke depan dan disisi lain sebagai langkah konkret dan sederhana untuk mengambil bagian dalam mendokumentasikan perjalanan panjang HMI selama 72 tahun mengabdi untuk negri Bangsa dan Negara.

5 februari 1947 hingga 5 Februari 2019, kini 72 Tahun HMI mengabdikan dirinya. Tentu usia yang tak muda lagi, mendokumentasikan nostalgia dan cerita masa lalu yang sangat manis, dari fase konsolidasi demokrasi hingga reformasi. Banyak capaian dan pengabdian nyata yang ditorehkannya. lewat kaderisasinya lahirlah kader dan alumni disegala lini pengabdian. Mulai dari praktisi, akademisi, birokrat hingga politisi ialah bukti konkret pengabdian Hmi terhadap bangsa ini

Tapi ingat !! cerita dan masa jayahnya HMI masa lalu seakan diputar kembali, kita tak mesti menyembah “berhala” dan terbuai berlarut-larut dalam romantisme sejarah. Bukankah jayanya kerajaan terbesar nusantara dan perdaban islam di dunia abad-abad yang lalu, setelah itu kemudian runtuh ialah contoh yang sederhana bagi kita untuk belajar dari sejarah.

HMI dalam perkembangannya hampir tidak ada gagasan cemerlang yang di persembahkan untuk bangsa ini, miskin ide dan tradisi intelektual menurun drastis . Ditengah-tengah hiruk pikuk persoalan bangsa dan rakyat indonesia yang membutuhkan perhatian ekstra, mulai dari persoalan HAM, Toleransi, perampasan tanah, kriminalisasi petani hingga kejahatan kemanusian lainya yang hampir terjadi di seluruh penjuruh tanah air ini. Membutuhkan Hmi didalamnya
yang konon katanya bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tapi juga Harapan Masyarakat Indonesia (HMI).

70 tahun bukan ukuran untuk lebih progresif dan pro rakyat. HMI saat ini terkesan banyak menghabiskan waktu untuk urus persoalan internal dari Pengurus Besar Hingga ke komisariat. Meskipun tidak semua. Tapi ya begitulah.

Seharusnya dengan usia yang tak lagi muda ini, Kader HMI dan HMI secara institusi harus berkorban lebih, hadir bersama masyarakat dalam perjuangan dan perlawanan untuk kepentingan rakyat indonesia, bukan malah keenakan dengan elitisme semu yang tak banyak memberikan efek positif bagi rakyat.

Singkat cerita, kita harus berbenah sedari awal. Masifkan agenda pengkajian dan pembacaan persoalan kekinian dengan landasan NDP sebagai pijakan dasar perjuangan kita. Dengan demikian tak ada yang lebih puitis selain berkorban lebih dalam perjuangan untuk kemanusian keadilan dan kebenaran.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download