Download

2019 Menjemput Matahari Pulang Ke Timur, Sebelum Kiamat

Maaf. Kata itu yang menjadikan lautan teduh dalam hening rindu yang pilu. Seperti rindu kepada buih-buih putih yang riak di bibir pantai berbatu. Lalu menyatu dalam dekapan debu dan sirna. Dan sirna sudah di malam hari.

Aku dan hanya inginku menjemputmu ke angkasa, kembali ke rumah kita abadi, di ufuk timur. Disana ada rembulan yang tujuh kali lebih dekat, tujuh kali lebih besar dan tujuh kali lebih indah. Cahayanya memanggil-manggil kita kesana diantara penumrah yang nampak dari seluet cinta yang tak akan pernah tergores. Disana ada desir angin yang tujuh kali lebih sejuk dan tujuh kali lebih lembut, yang akan membelai saat jaga dan tidurmu. Tak akan lagi ada rasa sakit disana, hanya bahagia menempati seluruh ruang jiwa.

Akan kupenuhi harimu dengan canda tawa samapai-sampai kau tak henti gelinangkan air mata. Gelinangan air mata bahagia, yang akan mempertegas pesona senyummu yang tak akan lekang hingga seribu tahun mendatang.

Fahamku, kusadari jika janji itu hanyalah alih semata, sebab hiruk pikuk duniawi pasti meminta amarah, meminta air mata dan menyisahkan duka. Tapi percayalah nestapamu akan kuobati segera, sebelum luka lebam menganga di dalam derita. Tak akan seperti kemarau yang menyisahkan kekeringan dan hujan yang menyisahkan banjir.

****

Iktisar ini, hanya membiarkan dingin malam menjadi kisah cinta kita, kisah yang bertajuk kasih dan diperankan oleh jutaan insan yang terilhami nokta-nokta asmara. Hingga teduh dalam heningnya jenuh yang dinamis.

Tekadku tuk meramu retakan hati yang terkulai tanpa daya ditengah samudra hari yang terperangah dalam jengah, lewat talian kata dari iktsar-iktisar renungan. Lalu termakna, terberkas di rak akal sebagai suplemen pikir untuk hati yang akan menimang salah dan khilaf. Sebab tak adalagi upaya selain diam dalam jamuan renungan.

Upaya untuk sulami rasa hati yang terkoyak duri sembilu oleh hasutan cawan sucimu yang sudah retak. Yang berisikan air bah serapah dari momok masa lalu yang tercemari debu dan kotoran.

****

Dan semua berhenti berprahara jika kau mengerti jalanmu, kau pahami langkahmu, kau teguh di garismu. Agar kita kembali ke rumah kita dengan jiwa lapang, di ufuk timur. Menikmati indahnya rembulan dan sepoinya angin dengan damai tanpa ada gelisah lagi, hingga hari-hari terus bergulir tanpa henti.

Akan kuajak kau menyusuri jagad timur sumber dari seluruh peradaban sejati, peradaban yang terlahir dari kesolehan sosial, dalam bingkai eksotiknya nurani kesantunan.

Ritus-ritus cinta di teatrekalisasi disana, tanpa ada kekangan mazhab totaliter yang melahirkan tirani tanpa henti. Ritus yang diibadahkan oleh jiwa yang bebas merdeka tanpa di batasi dengan kemiskinan dan ratapatan. Sebab peradaban timur kita adalah peradaban Eskatologi yang syarat akan keihlasan menjalani hidup.

Impersonalisasi kenabian adalah ahlak setiap jiwa sebagai landasan sofis berkehidupan bereskatologi tanpa didikte.

Maka setiap kali ada penyimpangan menjadi nestapa kiamat bagi mereka. Maka kembalilah ketimur, terbitlah dari sana. Jangan sebaliknya. Sebelum kiamat benar-benar terjadi pagi ini.

Ulangi lagi waktumu, aku tak mau lagi menikmati dua kali sore di hari yang sama di awal tahun ini. 2019. Di Tahun politik.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download