Download

Menjaga Kewarasan di Tahun Politik

KOLOM LENTERA — Penulis Abd. Wahab A.Rahim (Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ternate)

Individu harus melek politik, tidak boleh alergi terhadap politik. Bertolt Brecht salah seorang Penyair sekaligus Dermawan Jerman mengatakan bahwa Buta terburuk adalah buta politik. Orang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “Aku Benci Politik!”, sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan dan yang terburuk: korupsi dan perusahan multinasional yang menguras kekayaan negeri.

Faktanya banyak individu yang alergi akan politik, karena kondisi faktual bahwa segala jenis “kejahatan” pasti ada kaitannya dengan masalah politik. Pandangan seperti ini wajar adanya dikarenakan isi kepala kepala sebagaian besar dari kita (ataupun masyarakat kita) bahwa politik adalah pergantian kekuasaan setiap lima tahun, demokrasi ditarfsirkan hanya sebatas meramaikan lokasi pemilihan, dengan diuploadnya foto kelingking berwarna ungu dimedia social.

Padahal politik sejatinya adalah upaya untuk menginvestasikan perabadan bukan kekuasaan, itu sebabntya dulu politik disebut sebagai The Highest Of All Sciences (yang tertinggi dari semua ilmu-ilmu). Berarti menjadi politisi adalah pekerjaan yang paling sulit. Karena kerja dari seorang politisi adalah mendistribusikan keadilan, keadilan bagi satu kelompok belum tentu adil bagi kelompok yang lain, itupun dalam ukuran kelompok bagaimana jika keadilan kita ukur dari tiap individu-individu.

Pertanyaanya apakah politisi memahami ini?

Pasti!. Karena, setiap kali diamanahkan oleh rakyat untuk mewakili kepentingan rakyat, selalu terbelit dikepala dan dihati orang-orang yang diamanahkan untuk menjadi petahana yang sukses, sialnya adalah kata sukses diartikan sebagai “mampu menjadi petahana yang kembali memenangkan pertarungan diperiode berikutnya”. Masalahnya adalah yang dilakukan bukan dengan cara membangun kesadaran kritis rakyat, tetapi upaya mengusai kondisi kejiawaan rakyat dengan cara yang terpola, selfie sebagai pecitraan salah satunya.

Pendidikan politik, adalah adalah dua kata yang selalu didengungkan oleh institusi politik akhirnya menjadi sia-sia, karena kurikulum setiap institusi politik dikalahkan dengan hasrat individu untuk melangengkan kekuasaan, belum lagi jika yang diadu dalam institusi politik bukanlah kekuatan argumentasi tapi kekuatan symbolic ataupun ekonomi.

Selalu ada harapan baru, jika ada tekad yang sungguh-sungguh karena Demokrasi artinya sirkulasi elit. Tapi kepada siapa kita harus berharap? pada pemudakah? Karena tiap rentetan peristiwa penting yang mengisi catatan sejarah adalah individu-individu yang biasa disebut pemuda, kata Benjamin Disraeli salah seorang Negarawan dan Penulis Inggris, Almost everyrhing that is great has been done by youth (Hampir semua hal besar telah dilakukan oleh pemuda), Sedangkan Pramodya Ananta Toer seorang Penulis Indonesia pernah bertanya, Bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsanya?. Dan kepentingan bangsa adalah tentang kepentingan rakyatnya.

Tapi yang terjadi saat ini, individu yang mengiklankan diri dengan kata pemuda, tampil bukan dengan dalil atau slogan kecerdasan yang berbasis pada sebuah konsep yang radikal, tetapi berangkat dari wacana primordial, buktinya banyak sekali upaya mempromosikan diri dengan hastag #anakkampung. Artinya ada yang lemah dengan kekuatan pikiran, individu-individu tersebut. Bukankah radikkalisasi artinya menumbuhkan semangat jiwa kritis yang akan selalu berujung pada kreativitas? Jika kata pemuda yang dipakai maka konsekwensinya adalah kemampuan mengubah dengan kecerdasan secara radikal, bukan berupaya untuk mengusai kondisi hati dengan dalil “karena kita adalah tetangga”, tapi kekuatan pikiran dan berani mengatkan “saya layak dan punya kulaitas, bukan karena bersebelahan bangku saat di SMA”.

Pada dasarnya yang bertanggung jawab atas setiap problem yang ada adalah orang-orang yang paham, dan kita semua membutuhkan individu yang paham dan mampu menyelesaikan problem. Kelemahan kita adalah parameter yang kita gunakan untuk menentukan sikap pada momentum lima tahunan terlalu rendah, misalnya menunggu ada yang menyapa pada saat fajar menampakan diri, hari dimana pesta itu dilaksanakan.

Kesadaran kita yang dangkal seperti ini, entah sengaja atau tidak, dirawat oleh elit untuk melanggengkan target berkuasa diperiode selanjutnya. Karena jika kesadaran kritis yang ada, maka akan ada parameter dengan kulaitas kemanusian yang tinggi, maka disitulah bencana akan datang kepada mereka yang haus akan kuasa.

“Tetaplah waras di zaman yang kian edan
dan tetaplah edan dihadapan orang yang benar-benar edan”
(Dhul Rachim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download