Download

Elegi, Dari Muara Amarah Di Tiris Tempat Hajat

Sudah kumendekap dingin, memeluk ngantuk untuk mengusir kerinduan. saat itu riuh suara kitab berenai-enai di ruang dengar pada garis batas cahaya dan gulita.

Untaian kalimat bersahaja, mengalir keluar dari corong kata yang bisu, yang menyatakan bahwa terminumlah dari sumber dahaga dan termakanlah pada muara lapar, niscaya rembulan akan mengungkapkan nikmatnya pada bintang gemintang sebelum hilang gelap.

Sembari mengurai usia yang sesaat lagi sampai pada titik balik yang tak terjelaskan oleh kata bahkan mantra. uraia-uraian itu akan mengelupas satu persatu hingga tersisa pokok dewasa yang masih belum mencukupi meski upaya tak lengah walau sesaat.

Andai saja, tuhan mau mengerti! mungkin malam tak sepanjang ini, dan angin pasti kan lebih hangat.

Namun semua tak begitu saja, seiring keinginan yang disengaja, ada maksud yang terputus oleh silih berganti malam dan siang. yang ditempatkan pada garis pembagi diujung cakrawala. sehingga membuat kata-kata tak lagi berkuasa.

****

Andai saja, garis cita tetap sejajar dalam pelurus langkah yang hormoni. Bulir-bulir bahagia kan mengalir dari muara cinta yang abadi. Cinta yang tak terkonvensikan pada materi, hinggga mengikat mati kata hati di pagi hari.

Kan kupenuhi janji sebagai isyarat hasyarat yang terlanjur sunyi dalam sepi saat malam nanti pergi. Mengikuti tuntun Hyang Ilah yang mengimaji dalam diri di titik suci nurani.

Untuk itu aku mengabdi, menjadi peluh mahligai yang terdasah oleh dua insan yang tersakiti di tepi hari.

*****

Cahaya boleh datang saat pagi meninggi tuk menjunjung langit. Hingga tersisa berkas seluet dari benda-benda imaji milik platonik yang menyebutkan cinta terhadap ide daripada kebaikan adalah dasar dari semua kebajikan dan kebenaran.

Imaji itu tersulut imosi dari dalih insisi, disuntikkan oleh petuah palsu dalam wajengan kebohongan yang sangat merdu, didawaikan dengan melangkolis tuk menutupi prahara di ujung jalan tempat untaian terhenti.

Nanti waktu akan memanggil setiap ingat tuk pulang pada tempatnya, saat itu rasa sesal menatap dari pemberhentian. Hanya menunduk dalam rontahan jiwa yang terus membara dan hanya menatap dinding momok yang semakan robek menumpuhkan prahara.

Tak ada lagi yang bisa diperbuat, sebab diluar hujan kian deras dan pagi semakin meninggi pergi, dan angin makin dingin menggigil, dan jenuh terus menggeroti belulangku, lalu menggodaku ke muara amarah agar tertulislah kata cinta ini di tiris hajat tertumpah, taman kota.

Aku harap kau mengerti. Imaji ini. Yang keluar dari geram dalam sepi, dalam sunyi, dalam gerimis hingga lebat menumpahkan bah serapah.

 

Jun, 17 Januari 2019, Ternate, Taman Kota

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Download